Kamis, 11 Oktober 2012

Sahabat-Islami

Tahukah Engkau Dimana Ia Bersemayam?




Tahukah engkau, dimana ia bersemayam?
Dialah saudaramu…kemana ia melangkah?
Sanggupkah matamu memandangnya?
Sedang matanya tak sanggup menatapmu?

Saudaramu hidup laksana sejarah
Berjalan beriringan mengikuti langkahmu
Tanpa bahasa yang dapat menyapa
Bercucur air mata jika bersua

Jika bumi menghimpitnya
Hanya hatimu tempat mengadu
Engkau bermurah hati tanpa pamrih
Memupus duka nestapa yang ia derita
Engkau memikul beban berat tanggungannya
Ketika letih pilu merasuk kedua bahunya

Jika bumi menghimpitnya
Hanya hatimu tempat mengadu
Engkau selimutkan tirai di sekujur tubuhnya
Ketika syaitan datang memperdayanya

Engkau tersenyum bangga dengan ranum buah akhindit
Engkau bahagia pula dengan kesuburan
Ladang dunia saudaramu
Jika bumi menghimpitnya
Hanya hatimu tempat mengadu
***

-Duhai, ingin rasanya aku tetap hidup bersama mereka
Sehingga jika perpisahan harus tiba saat itulah ajalku pun tiba
Rumahku ada di antara rumah-rumah mereka
Di antara pusara mereka pula
jasadku terbaring

-Tiada yang berubah pada diriku sejak kita berpisah
Selain selaksa duka dan derita yang mengharu biru
Adakah orang yang bahagia tinggal di rumah
nan indah
Tanpa orang-orang terkasih yang mengelilinginya

-Dulu kami selalu mengunjungimu
Saat itu kita sekampung, namun setelah berpisah
Kita harus menghitung waktu untuk menemuimu
Padahal gejolak rindu hati ini tiada terperi

Sementara penyair lain berujar:

Aku heran, mengapa selalu merindukan mereka
Menanyakan keadaannya kepada setiap orang yang kutemui
Padahal mereka di sini bersamaku
Mataku mencari mereka kesana-kemari
Padahal mereka ada di dekat pelupuknya
Hatiku bergejolak merindukannya
Padahal mereka ada di antara tulang rusukku

Berikut ini ungkapan indah lainnya dari seorang penyair:

Sekalipun wajahku tak dapat menatapmu lagi
Namun cinta dan ukhuwah tidak akan pernah sirna
Aku tidak akan berhenti memujimu
Dari kejauhan, bersama untaian doa
Jiwaku akan selalu merindukanmu
Bersua bersama penuh ketulusan dan cinta

Penyair berikut ini mencoba menggambarkan kebanggaan dan kerinduan terhadap sahabat:

Ketika orang yang mengasihimu ini mencium
semerbak aroma kerinduan
Kedua matanya tergerak melantunkan ayat-ayat
dari surah al-Mursalat
Dalam kelapangan dada ini
Sesukamu engkau boleh tinggal
Karena itulah arti tertinggi bagi hati yang bersemi
Dapatkah malam-malam ini membahagiakan hati kita
diteruskan oleh fajar Subuh
Agar menghapus penantian panjang penuh duka

Sahabat-sahabatku…
Menjaga cinta adalah ibarat hutang
Kita masih tetap seperti dahulu kala

Benar apa yang dikatakan oleh Umar bin Khathab: Pertemuan dengan sahabat dapat menghilangkan duka.”

Sufyan pernah ditanya: Apakah kebahagiaan hidup itu?”
Ia menjawab:“Berjumpa dengan sahabat.”

Yang dinyatakan oleh Sufyan adalah benar, karena menurut pepatah: Sahabat yang tulus ibarat perhiasan di kala senang, benteng kukuh di kala susah. Jika melihatnya, hati merasa senang, jiwa menjadi tenang, dan duka pun sirna.”

Seorang penyair berkata:

Jiwanya adalah jiwaku, jiwaku adalah jiwanya
Hasratnya adalah hasratku, hasratku adalah hasratnya

Perasaan yang tulus membuat seseorang merasa sangat kehilangan ketika berjauhan. Ia tersiksa karena berpisah dengannya. Perasaan ini diabadikan oleh seorang penyair dalam untaian puisi, ketika ia menangisi kepergian sahabatnya:

Ketika kita harus berpisah
Antara aku dan engkau
Seperti aku dengan seorang raja
Karena telah lama kita selalu bersama
Namun kini kita lalui malam tanpa kebersamaan

Atau seperti yang dinyatakan oleh seorang penyair:

Aku sang musafir dengan dua jiwa
Jiwa pertama ikut bersama
Sedang jiwa kedua tergadai sahabat dan saudara

Penyair lain mengatakan:

Semua nestapa yang menimpa sepanjang masa
Kurasa ringan tak berarti
Kecuali perpisahan dengan orang-orang tercinta

Betapa harunya perpisahan antara orang-orang yang saling mencintai, baik setelah berpisah atau ketika awal perpisahan.

Seorang penyair melukiskan:

Biarkanlah kata sabar menghiasi ucapan perpisahan
Dari orang yang memendam rindu kepada dirimu
Menyesal atas semua yang telah berlalu
Karena tiada bekal untuk perjalanan abadi

Penyair lain berkata:

Wahai Abu Bakar
Sekalipun beribu peristiwa dan jarak memisahkan kita
Kami tak pernah kehilangan nyawa
Hanya gelora rindu yang menyesak di dada
Diriku hampa karena tulus cintamu kini tiada
Juga budi luhur yang menyingkap awan
penutup purnama
Ketika kuhantarkan dirinya ke gerbang perpisahan
Seakan kuhantar jasad orang tua ke haribaan abadi
Ketika kulepas dengan lambaian perpisahan
Seakan jiwaku sedang melepas seluruh
kebahagiaan diri
Tak sanggup kutatap kepergiannya
Karena tatapan hanya menambah pilu tak terperi
Dulu, sebulan bagaikan sehari
Namun kini, sehari bagaikan bulan-bulan
yang tak henti
Berkata Khalid bin Shafwan: Manusia yang paling lemah adalah yang enggan bersahabat, dan lebih lemah lagi, orang yang memutuskan tali persahabatan yang pernah terjalin.”

Seorang bijak mengatakan: Harta karun yang paling berharga adalah sahabat sejati.”

Yang lain berkata: Sahabat yang suka membantu adalah ibarat lengan dan siku.”

Seorang penyair berkata:

Banyak orang mempunyai beragam angan-angan
Sedang angan-anganku dalam kehidupan
Hanya seorang sahabat yang rela berbagi nasib
Kami berdua laksana satu ruh
Yang dibagi untuk dua tubuh
Tubuh kami dua
Namun ruh kami satu

Menurut al-Kindi: Sahabat adalah seorang manusia, dia ini kamu, hanya saja dia adalah orang lain.”

Orang bijak mengatakan: Barangsiapa enggan menjalin persahabatan, niscaya hidupnya dipenuhi permusuhan dan kehinaan. Aku bersaksi bahwa sahabat sejati adalah kekayaan yang paling berharga dan bekal yang paling istimewa, karena ia adalah sebagian dari jiwa dan penghapus duka.”

Sementara pepatah bijak lainnya menyatakan: Seringkali seorang sahabat lebih dicintai daripada saudara kandung sendiri.”

Mu’awiyah pernah ditanya: Apa yang paling engkau sukai?” Ia menjawab: “Seorang sahabat yang mendorongku agar mencintai rakyat.”

Ibnul-Mu’taz berkata: Orang yang dekat terasa jauh karena permusuhan, sementara orang yang jauh terasa dekat karena cinta dan kasih sayang.”

Seorang penyair berkata:

Kaum kerabat seringkali mengkhianatimu
Namun orang yang sanggup memenuhi janji
Justru orang yang tak senasib denganmu

Seorang penyair menggambarkan:

Kurasa engkau selalu menjauh dariku
Maka aku pun menjauh seperti yang kau mau
Jauh darimu sungguh menyakitkanku
Namun kedekatanku menyakitimu
Apa yang harus kulakukan wahai sahabatku?

Namun, jika sahabatmu sebetulnya memang tidak suka menjalin hubungan ukhuwah denganmu, dan respons yang selama ini ditunjukkannya hanya sekadar lip service pergaulan atau didorong oleh keterpaksaan belaka, maka tinggalkanlah. Anda tidak perlu menjalin hubungan ukhuwah yang bersifat khusus dengannya, biarkan hubunganmu dalam batas persahabatan islami yang biasa.

Saran ini dinyatakan oleh Imam Syafi’i dalam puisinya:

Jika seseorang membalas persahabatanmu
Dengan kepura-puraan
Jauhilah dan jangan terlanjur memberi belas kasihan
Banyak orang yang boleh mengganti kedudukannya

Dengan meninggalkan, engkau merasa lebih nyaman
Hati masih sanggup menahan sabar menanti sang kekasih
Walau jarak terlalu jauh memisahkan
Tidak semua orang yang kau suka
Akan suka kepadamu
Dan tidak semua orang yang kau beri kesetiaan
Akan membalas dengan ketulusan

Jika persahabatan tidak tercipta secara alami
Apalah arti sebuah cinta yang penuh kepalsuan
Apalah arti seorang sahabat
Jika sanggup mengkhianati sahabatnya
Berubah sikap dari cinta menjadi dendam
Melupakan keindahan hubungan yang pernah terjalin
Membuka rahasia yang selama ini dijaga
Apa arti kehidupan dunia jika tidak melahirkan
Seorang sahabat nan setia, memegang janji
lagi baik hati

Malik bin Dinar berkata: Dua insan tidak akan terikat dalam jalinan ukhuwah, kecuali jika masing-masing memiliki sifat yang sama dengan sahabatnya.”

Karena itu, betapa banyak orang yang berjumpa sekilas dalam perjalanan, kemudian berubah menjadi teman yang sangat dekat. Ada juga orang yang anda kenal melalui sahabat lama, kemudian ia menjadi sahabat yang lebih dekat ketimbang sahabat lama itu sendiri. Hal tersebut biasa terjadi, karena anda menemukan beberapa kesamaan perasaan, kesenangan, pemahaman, dan idea.

Separti yang dinyatakan oleh seorang penyair:

Berapa banyak sahabat yang kau kenal melalui sahabat
Ia lebih dekat denganmu daripada sahabat lama
Seorang sahabat yang kau temui dalam perjalanan
Setelah sampai tujuan ia menjadi sahabat sejati

Seorang penyair membahasakan:

Jika engkau ingin berteman
Maka carilah seorang sahabat
Yang penuh malu, menjaga diri dan murah hati
Ia berkata ‘tidak’ jika engkau katakan ‘tidak’
Dan jika kau katakan ‘ya’ ia menjawab juga ‘ya’
Aku selalu menutup pandangan dari kesalahan sahabat
Karena takut menjalani hidup tanpa sahabat

Penyair lain berkata:

Orang yang enggan menutup pandangan
dari kekurangan sahabat
Sampai akhir hayat, ia takkan dapat sahabat tanpa cacat
Orang yang selalu menghitung-hitung kesalahan
Sepanjang hayat tak ada sahabat tanpa cacat

Penyair yang lain pula menyatakan:

Terimalah sahabatmu dengan segala kekurangannya
Sebagaimana kebaikan mesti diterima walau kecil wujudnya
Terimalah sahabatmu
Karena jika sekali ia menyakiti
Lain kali ia membahagiakan

Seorang penyair menuturkan hal ini dalam untaian indah bait puisinya:

Pergaulilah sahabatmu dengan segala kekurangan
yang dimilikinya
Jagalah agar tetap mencintainya sekalipun jauh berpisah
Orang yang paling lama menderita adalah
Pendamba sahabat sejati tanpa kekurangan

Tidak ada orang yang hidup tanpa cela, seorang penyair mengungkapkan:

Jangan kurangi cintamu kepada sahabat
Hanya karena melihatnya melakukan sekali kesalahan
Tiada sahabat tanpa cacat
Sebesar apa pun upayamu untuk mencarinya

Kita terkadang tidak suka melihat perangai seseorang. Tetapi ketika ia pergi, dan kita telah bergaul dengan orang lain, ternyata orang itu lebih buruk perangainya. Maka saat itulah mata kita baru terbuka, dan melihat sisi-sisi baik sahabat pertama yang tidak pernah diperhitungkan sebelumnya.

Seorang penyair mengungkapkan hal ini dalam puisinya:

Pernah kusakiti hati sahabatku,
Salam dengan teguran
Namun setelah berpisah dan mencoba bersahabat dengan
banyak orang
Akhirnya harus kutangisi kepergian seorang sahabat

Karena itu, Anda harus yakin bahwa siapa pun tidak akan lepas dari kekurangan, manusia tetap sebagai manusia yang tidak pernah lepas dari kudratnya. Mereka tetap manusia sama dengan dunia, harus ada cela terlihat oleh mata atau nampak ibarat noda dalam air jernih kiranya tidak adil jika harus mendapat sahabat yang baik sementara dirimu tidak baik perangai dan tatakrama.

Seorang penyair berkata:

Jangan patah hati karena seorang sahabat menyakitimu
Banyak orang yang menyalahi
Tapi tetap murah hati penuh derma
Jika sahabatmu menyalahi, tetaplah pertahankan
hingga akrab kembali
Sementara engkau menjadi lebih pemurah
lagi terbuka

Orang bijak mengatakan: Adakah orang alim yang tak pernah salah, adakah pedang yang tak tumpul, adakah orang baik yang tak pernah berubah.”

Sebuah pepatah mengatakan: Orang yang mencari sahabat dengan syarat tidak melihat kesalahannya dan tetap mencintainya, ibarat seorang musafir yang sesat; semakin jauh melangkah, semakin jauh pula dari negeri tujuan.”

Sa’id bin al-Musayyab berkata: Tiada orang yang mulia, alim, atau hebat yang terbebas dari kekurangan. Namun yang penting adalah, sebagian kalangan manusia tidak baik jika dibeberkan kekurangannya.”

Jika seseorang mampu mengendalikan emosi dan berusaha keras agar tetap terfokus dengan sisi-sisi positif pada diri sahabatnya, selalu yakin bahwa kebaikannya jauh lebih banyak dari kekurangannya, niscaya tidak akan menzhalimi sahabat atau membuatnya marah. Jika suatu waktu ia dibayangi oleh kesan negatif karena kesalahan yang pernah dilakukan olehnya, maka ia mencoba merenungkan emosinya dan mengatakan pada dirinya:
Jika ia pernah menyakitiku
Dengan perlakuan buruk satu kali
Maka ia pernah berbuat baik kepadaku berkali-kali
Jika sang kekasih melakukan satu kesalahan
Segala kebaikannya membuka lebar pintu maaf

Cinta yang besar dan prasangka baik terkadang betul-betul menutup pandangan seseorang terhadap kekurangan sahabat, seakan-akan kekurangan tersebut tidak pernah ada, seperti yang dinyatakan oleh seorang penyair:
Aku tidak pernah melihat kekurangan sang kekasih
Tidak pula sebagian perangainya selama aku menyukainya
Pandangan suka akan menutup semua kekurangan
Sementara pandangan benci akan memperbesar
setiap kesalahan

Seorang penyair berkata:
Aku suka seorang sahabat yang serasi
Dan menutup mata dari segala kesalahan kecilku

Seorang penyair berkata:
Pertahankanlah hubunganmu
dengan orang-orang yang baik hati itu
Sekalipun mereka menuduhmu memutuskan persahabatan
Membuka pintu maaf dan lapang dada
atas kesalahan mereka
Adalah pilihan sikap yang tepat

Penyair lain berkata:
Tunjukanlah kepadaku orang
yang jika aku marah atau suka
selalu membalas dengan hati terbuka dan penuh sabar

Banyak orang yang sanggup memberi pengertian kepada musuh, maka seharusnya mereka lebih mampu melakukannya kepada sahabat.

Dalam untaian bait puisinya, Imam Syafi’i berkata:
Ketika aku memaafkan dan tidak menyimpan iri di hati
Jiwaku tenteram bebas dari tekanan rasa permusuhan
Kuucapkan salam di saat berjumpa lawan
agar menahan bibit permusuhan
Dengan ucapan salam kutampakkan wajah berseri kepada orang yang kubenci
seakan berbunga hatiku penuh kecintaan
Manusia adalah penyakit
Penawarnya dengan cara mendekati
Jika menjauhi berarti mengabaikan cinta sejati

Qadhi at-Tannukhi berkata:
Temuilah musuhmu dengan muka ceria
Seakan-akan begitu segar indah berseri
Orang yang paling tenang akan menemui musuhnya
Dengan memendam dengki namun berbaju cinta
penuh arti
Kelembutan adalah anugerah
Ucapan yang terbaik adalah kejujuran
Kebiasaan gurau berlebihan akan membuka pintu
permusuhan

Seorang penyair berkata:
Jika tidak sanggup melawan musuhmu maka coba dekati
Mulailah dengan gurau
Karena gurau membuka kedekatan hati

Dekatilah
Karena api akan padam oleh air yang meredamnya
Api membuat matang
Namun wataknya selalu membakar

Oleh karenanya, tidak baik jika tetap bertahan untuk saling menjauhi atau memutuskan hubungan ukhuwah hanya karena kesalahan kecil yang sulit dihindari selama masa persahabatan.

Hubungan kita tetap tak bergeming sepanjang waktu
Namun keretakan yang kini terjadi
Hanya ibarat tetes hujan musim semi
Dikau takut
Ketika melihatnya begitu deras membasahi bumi
Betapapun derasnya hujan musim semi
Ia tetap akan segera berhenti

Jangan menyakiti hati sahabat yang datang untuk minta maaf dengan penuh penyesalan atas kesalahan yang pernah ia buat. Perlakukanlah sahabatmu sebagaimana kamu suka diperlakukan jika berada dalam posisinya.

Jika seorang sahabat datang memohon maaf
Dengan pengakuan atas kesalahan yang dilakukan
Jagalah jangan sampai engkau memarahinya
Dan maafkanlah
Sesungguhnya pemaaf adalah identitas pribadi sejati

Yunus an-Nahwi berkata: Jangan musuhi seseorang, jika kamu mengira ia tidak akan memusuhimu. Jangan ragu untuk bersahabat dengan siapa saja, sekalipun kamu kira ia tidak akan menguntungkanmu. Sesungguhnya kamu tidak pernah tahu, kapan harus waspada terhadap musuh dan kapan perlu bantuan seorang sahabat. Jika ada yang meminta maaf darimu, maka maafkanlah, sekalipun kamu mengetahuinya hanya berpura-pura, agar kamu tidak banyak menyalahkan manusia.”

Betapa indah pepatah seorang Arab Badwi yang mengatakan: Orang yang penuh kasih sayang adalah yang mau memaafkan dan mendahulukan kepentingan saudaranya.”

Abdullah bin Mu’awiyah bin Ja’far bin Abu Thalib berkata:

Jangan surut kasihmu terhadap sahabat
Hanya karena melakukan satu kesalahan
Tidak ada sahabat yang bebas dari kekurangan
Walau setinggi apa pun idamanmu ketika mencari
Jika benar tuduhanmu bahwa aku pernah menyakitimu
Biarlah kuterima, tapi di manakah perasaan ukhuwahmu
Jika kamu menyakiti untuk membalas perbuatanku
Dimana kebaikan dan keluhuran budimu

Seorang penyair berkata:
Jangan terlalu banyak menyalahkan
Karena waktu kita sangat sempit
Suasana terkadang tenang
Namun terkadang juga bergejolak
Aku tak pernah menangisi atau kecewa
Karena pasang surut sikapnya
Hanya aku betul-betul menangis
Ketika ia pergi tak kembali
Ukhuwah mengikat begitu banyak manusia
Jika mereka sudah bersatu
Tak terasa kesusahan masa lalu
Barangkali sisa umur kita terlalu pendek
Buat apa kita terus saling menyalahkan
Tanpa mengenal waktu

Penyair lain berkata:
Mulai hari ini kita kembali saling kenal
Menutup lembaran hitam masa lalu
Seakan tiada kejadian atau peristiwa
Seakan tiada ‘kamu pernah bilang’
Atau ‘kami pernah berkata’
Jika benar-benar tiada pilihan kedua
Maka tegurlah dengan baik tanpa membawa duka

Dalam keadaan inilah, Abu Darda’ menyatakan: Menegur seorang saudara adalah lebih baik daripada harus berpisah dengannya.”

Demikian pula dengan pepatah yang mengatakan: Teguran dapat menjaga kelangsungan hubungan baik antara sesama manusia.

Berkata seorang penyair:
Jika tak menegur berarti tiada cinta
Cinta tetap bertahan selama ada teguran

Sa’id bin Humaid berkata:
Jika sahabatmu terlalu sering berbuat dosa
Maka bersikaplah antara tetap dekat dan menghindari
Tegurlah karena seringkali ia mau membuka
Kejelasan masalah yang selama ini tertutupi
Atau jauhilah, semoga lebih bermanfaat
Jika kamu gagal dengan teguran
Maafkanlah jika ia berubah
Sadar atas kesalahan dan mau kembali
Sikap maaf dari orang yang mampu adalah lebih baik
Jika sebenarnya ia sanggup memberi saksi
Sesungguhnya kamu tahu semua
Orang yang hidup pasti berdosa
Yang tidak melakukan dosa
Hanya mereka yang sudah terkubur mati

Seorang penyair berkata:
Banyak orang yang tinggal jauh
Namun ia dekat di hati
Banyak orang yang tinggal berdekatan
Namun hatimu tak mampu menyukai
Apalah arti jauh dan dekat
Melainkan hanya permasalahan nurani
Dalam suatu riwayat diceritakan bahwa pada suatu saat Abu ‘Ubaid bin Salam datang berkunjung kepada Imam Ahmad bin Hanbal, ia berkata: Wahai Abu Abdillah (panggilan Imam Ahmad), melihat kedudukanmu, seharusnya aku mengunjungimu setiap hari.

Imam Ahmad menjawab: Jangan berkata seperti itu. Sesungguhnya beberapa sahabatku tidak pernah bertemu kecuali hanya sekali dalam satu tahun, namun aku yakin mereka lebih tulus daripada orang-orang yang bertemu denganku setiap hari.”

Ini merupakan realiti, ketulusan cinta tidak harus terbatas pada orang-orang yang sering bertemu. Sebaliknya, kita sering bertemu dengan orang yang tidak disukai bahkan menyebalkan.

Seperti yang digambarkan oleh seorang penyair:
Di antara nestapa dunia bagi seseorang adalah
Harus selalu bertemu musuh yang mustahil jadi sahabat

Al-Yazidi mengatakan: Dalam sebuah pertemuan aku melihat Khalil bin Ahmad, ia duduk di sudut ruangan yang beralaskan karpet. Khalil memberiku tempat duduk, namun aku tidak mau membuatnya susah karena terlalu sempit. Melihat keenggananku, Khalil berkata: Sesungguhnya lubang jarum tidak terlalu sempit bagi dua orang sahabat yang saling mencintai. Sebalikya, dunia ini tidak cukup luas bagi dua orang yang bermusuhan.”
Ungkapan seperti itu menunjukkan bahwa Anda betul-betul mencintai sahabat.

Kisah lainnya diriwayatkan oleh Muhammad bin Sulaiman. Suatu ketika Muhammad bin Sulaiman berkata kepada Ibnu Sammak: “Aku mendengar isu yang menyisihkanmu.” Ibnu Sammak menjawab: “Aku tidak peduli.” Dengan nada heran Muhammad bin Sulaiman bertanya lagi: “Kenapa demikian?” Ibnu Sammak segera menjawab: “Karena jika isu itu benar, aku yakin kamu pasti memaafkannya. Namun jika tidak benar, kamu tentu menolaknya.”

Seorang Salaf menulis surat kepada sahabatnya: Amma ba’du, jika aku punya banyak sahabat yang tulus, maka engkaulah yang menempati urutan pertama di antara mereka. Dan jika sedikit, maka engkau adalah orang yang paling tulus di antara mereka. Namun jika sahabatku itu hanya seorang, maka engkaulah orangnya.”

Umar bin Khaththab berkata: Janganlah cinta membuatmu terbelenggu oleh beban yang berat, dan janganlah rasa bencimu membuatmu hancur lebur.”

Abul-Aswad berkata:
Cintailah kekasihmu dengan cinta yang sederhana
Karena kamu tidak tahu kapan ia menjauhimu
Jika harus benci, maka bencilah
Tapi jangan menjauhi
Karena kamu tidak tahu
Kapan harus kembali

Beberapa penyair berselisih ketika mencoba mendefinisi-kan kata ’sahabat’, dan perselisihan tersebut dirangkai dalam bait-bait berikut:

Mereka berkata sahabat:
Adalah orang yang tulus cintanya
Dan tidak menipu

Yang lain berkata:
Ia adalah yang tidak menuduh
Dengan mengatakan ‘kamu’ atau ’saya’

Ada juga yang berkata:
Ia adalah kata yang tidak jelas maknanya
Dalam kehidupan maya

Di zaman klasik, Labid berkata:
Telah tiada orang-orang yang kuanggap kawan sejati
Tinggallah diriku hidup
Di tengah masyarakat kerdil
Ibarat kulit yang terkelupas
Dari penyakit yang sudah kering

Berkata al-Busti:
Kebanyakan manusia
Yang datang mengunjungimu
Jika bertemu
Justru lebih banyak menambah dosa
Maka janganlah engkau peduli
Apakah mereka mau pergi
atau datang lagi

Seorang penyair berkata:
Telah tiada
Orang yang layak diteladani
Ia selalu mengingkari segala perbuatan
Tinggallah diriku
Di tengah manusia tak berguna
Hidup saling mengandalkan
Ibarat si buta yang menjaga
Orang yang sama butanya

Berkata ‘Alam al-Huda:
Telah tiada orang
Yang jika kau beri kebaikan
Membalasnya dengan kebaikan sama
atau lebih sempurna
Tinggallah diriku di tengah kaum
Yang buruk perangainya
Selalu mengingkari kebaikan
Yang pernah kuberi padanya

Sementara itu ada pula yang bingung menghadapi fenomena sahabat, karena sikapnya yang saling bertentangan dan selalu berubah. Ia menggambarkan kebingungannya dalam untaian puisi:

Kulihat pada dirimu
Kumpulan akhlak baik dan buruk
Engkau adalah sahabat yang
Persis dengan sifat yang kusebut
Dibilang dekat tapi jauh
Dungu tapi cerdas
Sesaat dermawan lalu bakhil
Taat tapi juga maksiat
Lisanku akhirnya bingung
Harus menghina atau memuji
Hatiku pun menilai
Dirimu antara tidak tahu dan mengerti
Engkau bagaikan bunglon
Sehingga membuatku seakan buta
tak mengerti
Apakah engkau angin semilir atau badai prahara
Aku tidak menipumu
Menasihati pun tidak
Karena tak tahu
Kuputuskan tuk tidak menilaimu

Ada juga yang kecewa karena pernah dikhianati oleh sahabatnya, ia berkata:
Ketahuilah bahwa orang-orang
Yang pernah kupilih sebagai sahabat
Bagaikan ular pasir
Yang tak segan menggigit kawan
Semula mereka kuanggap baik
Namun setelah berteman
Aku bagaikan orang
Yang tinggal di lembah kering tiada tumbuhan

Di antara mereka, ada yang menyatakan dalam puisinya:
Kesetiaan adalah sebuah kata
Yang pernah kudengar saja
Namun tak pernah kutemukan wujud dan bekasnya
Aku takkan pernah menuntut dari siapa saja
Aku benar-benar kecewa
Dengan sahabat yang tega berkhianat
Siapa yang berangan-angan
Menemukan sahabat sejati di bumi ini
Dia adalah manusia
Yang tak pernah mengenal hakikatnya sendiri

Penyair lain mengatakan:
Jalanilah hidup ini
Bersama seorang sahabat setia
Dapat dipercaya kapan saja
Namun jika tidak
Jalanilah hidup ini dengan seorang diri

Cintailah kekasihmu sesederhana mungkin, siapa tahu ia menjadi musuhmu pada suatu saat nanti. Dan bencilah musuhmu sesederhana mungkin, siapa tahu ia menjadi sahabat dekatmu pada suatu saat nanti.”

Seorang bijak berkata: Jika kawanmu sanggup menyebut keburukan seseorang di hadapanmu, maka ketahuilah bahwa engkau adalah giliran berikutnya.”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar